Minggu, 08 Agustus 2010

Pengembaraan AL Khalaj jawa

di kesunyian tak kujumpai Tuhan
---------------------------------
di kesunyian tak kujumpai Tuhan
bahkan tak pula bisa kurasa bayang bekas jejakjejakNya
yang biasanya sungguh berkilau tanpa bikin silau.

apakah karena kini di kesunyian tak ada Tuhan?

apakah karena kini kesunyian sanggup menyembunyikan Tuhan?

apakah karena kini kesunyian tidak lagi disukai Tuhan?
apakah karena kini yang semula kuyakini sebagai kesunyian ternyata cuma?

tak lebih dari sesuatu yang hanya menyerupai semacam kesunyian?

karena di kesunyian tak lagi bisa kujumpai Tuhan
maka akupun mulai melangkah, berjalan pelahan,
melewati deret pepohonan yang menidurkan daundaunnya kerna hari sudah malam
dan juga melewati tegakan tianglistrik-tianglistrik yang berjarak 67 meter<
antara satu dengan lainnya,
terus melangkah ke barat, melewati jembatan yang melengkung di atas sungai
yang mengalir dari selatan ke utara, sampai akhirnya tiba pusat kota

begitu terang, bahkan nyaris gemerlap, dan jelita

aih, aku melihat Tuhan ternyata sedang lehaleha di sana..
ooo, batapa Dia mukim di tiap mata padagang kakilima,
betapa Dia sedang menafasi tiap ibu tua penjual nasi pecel,
betapa Dia sedang memompa jantung tiap penjual susu telur madu jahe
yang melengkapi depotnya dengan roti bakar rasa aneka selai dari buah-buahan
dan kacang-kacangan,
betapa Dia sedang mengelus bahu anakjalanan-anak jalanan yang disewakan ibunya
pada pengepul yang memperkerjakan anak-anak untuk mengemis,
betapa Dia sedang menyeka kantuk tukangparkir-tukangparkir,
betapa Dia sedang membersihkan benak polisilalulintas-polisilalu lintas bulus
bagaimana cara menilang pengendara mobil asal luarkota,
betapa Dia sedang mensuplai tenaga pada tukangpijat-tukang pijat tunanetra,
betapa Dia sedang menjaga mudamudi-mudamudi yang masih keluyuran di lepas tengah malam,
betapa Dia sedang menggumamkan entah apa pada pasanganselingkuh
yang sedang saling berbisik memutuskan hendak menginap di losmen mana,
betapa Dia sedang menggucelngucel tengkuk pemabok yang membungkuk muntahmuntah
dengan masingmasing telapaktangan bertumpu pada lutut kiri dan kanan,
betapa Dia sedang menemani sopirtaksi-sopirtaksi yang mangkal menunggu penumpang
atau panggilan penjemputan dari operator pusat,
betapa Dia sedang menghibur pelacurjalanan paruhbaya yang sejak dasaran selepas magrib
hingga lepas tengah malam ini belum digoda atau apa lagi disamperin lakilaki hidungbelang
........
kini aku tahu, mengerti dan paham, mengapa di kesunyian tak kujumpai Tuhan.

Timur Sinar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar